Matikan Televisimu?
Matikan Televisimu?
Wisnu Prasetya Utomo / 03 November 2014

Seorang kawan sering menggerutu ketika melihat tayangan-tayangan di televisi yang ia anggap tidak berkualitas. Sinetron dengan jalan cerita yang tidak masuk akal, tayangan politik yang berisi perilaku kekanak-kanakan, berita tentang kekerasaan terhadap anak yang menggelisahkan, dan sebagainya. Gerutuan kawan saya hampir selalu muncul setiap menonton televisi. Mungkin karena jenuh dengan gerutuan tersebut, seorang kawan yang lain selalu sigap dan tanggap menawarkan solusi atas gerutuan saya tersebut: ambil remote, pindah channel, atau matikan televisi.

Sebagai seorang teman yang baik, tentu kawan saya yang penggerutu tersebut berterima kasih karena sudah ditawarkan sebuah solusi. Tapi sebagai seorang penonton televisi yang tekun, dia jengkel. Dia menganggap solusi yang dia tawarkan bukan sebuah solusi. Itu ibarat menyiram api dengan bensin, masalah semakin besar. Dan dia mulai membacakan khotbah di atas bukit, menceramahi kawan saya yang memberikan solusi.

Seperti rumus, khotbah itu saya kira sudah ia hapalkan, bunyinya kurang lebih begini: “Menyuruh orang mengganti channel televisi itu sama sekali bukan solusi. Itu bias kelas. Bayangkan kalau orang yang menonton televisi hanya bisa mengakses 11 stasiun televisi nasional yang isinya itu-itu saja. Mengganti channel televisi tidak mengubah apa-apa. Buat kamu sih gampang, bro. Tinggal pasang TV kabel, atau streaming-an di Internet.”

Khotbah itu dilanjutkan dengan berapi-api, tangan kawan saya berakrobat ke sana ke mari sambil menjelaskan. “Apalagi kalau ente menyuruh orang mematikan televisi. Berapa sih yang punya banyak pilihan untuk nggak nonton TV? Itu cuma menguntungkan industri televisi dong. Mereka kan menyewa frekuensi dari negara yang mestinya dipergunakan untuk kepentingan orang banyak.”

Kawan saya yang diceramahi diam menahan ketawa. Dia masih menghormati kawan saya yang masih melanjutkan khotbahnya. “Ente pernah baca Neil Postman nggak? Doi pernah bilang yang kira-kira bunyinya “Masalahnya tidak terletak pada tayangan apa yang kita tonton. Masalahnya adalah karena kita menonton televisi.” Tapi ya jangan buru-buru terjebak pada ajakan sesat untuk mematikan televisi.”

Kawan saya hendak membantah. Lebih tepatnya bertanya siapa sebenarnya Neil Postman. Dia asing dengan nama itu. Tapi belum sempat mengajukan pertanyaan sampai tuntas, khotbah masih dilanjutkan.

“Nah, karena persoalannya terletak pada aktivitas menonton televisi, maka solusinya juga terletak pada bagaimana kita menyaksikan televisi. Bagaimana kita menonton televisi, akan dipengaruhi bagaimana pemahaman kita tentang televisi. Solusi mematikan televisi seperti yang kamu bilang itu tidak akan efektif.  Akan jauh lebih berguna jika energi orang-orang kayak kamu ini digunakan untuk melakukan gerakan literasi media.”

“Jadi begitu, kalau sudah ada literasi media yang kuat, kita para penonton televisi bisa kritis karena punya kesadaran. Dengan kesadaran, kita bisa memaksa stasiun-stasiun televisi agar membuat tayangan-tayangan yang lebih bermanfaat bagi kepentingan publik. Ngerti nggak kamu?”

Kawan saya yang diceramahi tertidur. Saya ngakak sepuasnya.

 

Wisnu Prasetya Utomo (@wisnu_prasetya) adalah seorang blogger yang kehidupannya mondar-mandir Yogyakarta-Jakarta.

 

Sumber foto: chuin5.wordpress.com

 

comments powered by Disqus