13 Jam Mantenan Raffi-Gigi dan Kekalahan Publik
13 Jam Mantenan Raffi-Gigi dan Kekalahan Publik
Syifa Annisa / 03 November 2014

Siaran pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang ditayangkan live selama 13 jam per hari di Trans TV telah mengubah Trans TV menjadi Televisi Rafi Ahmad Nagita Slavina (TRANS). Seolah pernikahan mereka adalah suatu hal maha-penting yang wajib diketahui hingga Trans TV rela menayangkannya selama 13 jam meminggirkan program-program berita yang mereka miliki seperti Reportase Pagi dan Reportase Sore.

Tak beda jauh dengan Trans TV, RCTI juga menayangkan siaran pernikahan Rafi dan Nagita berulang kali hingga mengorbankan program-program berita. Seolah dengan menayangkan pernikahan Raffi dan Nagita, kebutuhan publik akan informasi pada hari itu telah terpenuhi semuanya.

Tahukah Anda, bahwa dengan disiarkannya tayangan manten Raffi-Nagita di RCTI dan Trans TV tersebut telah membuat skor kekalahan publik menjadi 0-1 dari televisi swasta?

Sebab frekuensi yang digunakan oleh stasiun TV untuk bersiaran adalah milik publik. Karena frekuensi adalah sumber daya alam yang terbatas jumlahnya, jadi perizinannya hanya untuk disewakan, bukan dimiliki. Dari sini tentu saja para pemilik stasiun TV sebagai pengontrak frekuensi wajib mematuhi segala peraturan yang ditetapkan oleh pemberi kontrak.

Siapa pemberi kontrak tersebut? Ya saya, Anda, kita semua. Publik.

Dan apa peraturan yang harus dipatuhi tersebut? Undang-Undang Penyiaran No.,32 Tahun 2002 dan Pedoman Perilaku Penyiaran-Standar Program Siaran (P3SPS) yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)

Didalam P3SPS Pasal 2 tertulis:

Lembaga Penyiaran wajib mengutamakan kepentingan publik setinggi-tingginya.

Tentu saja sekali lagi stasiun TV sebagai pengontrak frekuensi harus mematuhi peraturan tersebut.  Apa untungnya sih 13 jam siaran pernikahan Raffi-Nagita untuk publik? Apa kepentingan publik yang dikandung dalam siaran pernikahan dua sejoli tersebut? Jawabannya tidak ada!

Justru itu melanggar 1 lagi pasal dalam P3SPS, yaitu Pasal 28 tentang hak privasi. Yang pada intinya:

Persoalan privat tidak boleh di bawa ke ruang publik, kecuali mengandung kepentingan publik yang tinggi.

Jadi dengan disiarkannya mantenan Raffi-Gigi selama 13 jam pada 17 oktober lalu, secara resmi Trans TV dan RCTI telah melemparkan bola kekalahan pada publik. Mempecundangi publik sebagai pemilik yang sah atas frekuensi. Dua stasiun TV tersebut telah memperlihatkan etika yang tak tahu diri sebagai pengontrak frekuensi. Mereka telah menggigit tangan yang telah memberinya "izin tinggal" dan memilih mengabdi pada rating yang mahakuasa.

#ShameOnYOUTransTV-RCTI

 

Syifa Anissa (@_syifa__) adalah mahasiswa Jurusan Sosiologi, pembelajar kritis media, pemintal kata, dan penikmat cerita.

 

Sumber foto: Kompas.com

comments powered by Disqus