Menjadi Remaja Ala Televisi
Menjadi Remaja Ala Televisi
Perdana Putri / 10 December 2014

"Gue yang suka duluan ama dia!"
"Bodo! Kan gue gue yang duluan deketin! Lu sih cewek udik!"

Dialog di atas kerap kali kita temukan di berbagai sinetron remaja. Sepintas tidak ada yang masalah. Dialog itu akan berhenti jadi bahan bercandaan masyarakat yang sudah penat akan tayangan tv, tapi benarkah sampai di situ saja?

Kita semua pernah jadi remaja, tapi yang jelas menjadi remaja bukan hanya persoalan pacaran atau tidak pacaran semata saja, bukan?

Menjadi remaja, berarti sebuah proses mencari jati diri. Artinya, remaja akan mengalami gonjang-ganjing psikologis hingga biologis. Di masa ia mencari jati diri, tapi tidak mau ada intervensi orangtua, kepada siapa lagi ia musti mencari selain kepada teman dan medium lain - termasuk televisi?

Sekarang kita lihat apa yang televisi tawarkan tentang kehidupan remaja: pacaran, persaingan untuk merebutkan hati lawan jenis, dan sejenisnya. Bahkan ketika ada bingkai kehidupan yang sulit di luar percintaan, itu tidak lebih dari bumbu agar cerita percintaannya makin kompleks.

Lihat saja di FTV "Kepepet Cinta Cowok Jetset" (tayang Februari 2014) yang menceritakan lika-liku cinta "beda kelas"; si laki-laki dari kehidupan berada, si perempuan adalah seorang supir angkot. Fokus utamanya tetap percintaan mereka, tidak perlu repot-repot tahu bagaimana sekolah si laki-laki—yang katanya akan bersekolah di Harvard. Padahal tidak pernah ada bingkai cerita si laki-laki belajar, hanya sibuk balapan dengan mobil mewah, menghakimi perempuan, dan mengejar cinta si supir angkot cantik. Bumbu "Harvard" ini digunakan untuk menyulitkan masa depan hubungan cinta si laki-laki dan si perempuan semata!

Melewati masa remaja sudah cukup sulit karena di masa ini seseorang akan terombang-ambing untuk mencari nilai-nilai yang mencerminkan dirinya. Apakah gambaran pacaran-melulu di televisi bisa membantu kegalauan si remaja itu?

Pada kenyataannya, masalah remaja tidak hanya soal hubungan dengan lawan jenis, mereka juga pusing memenuhi ekspektasi orangtua di bidang pendidikan. Belum lagi mengembangkan kapasitas mereka dalam berkarya sebagai anak muda dengan energi yang meletup-letup. Ekskul, kegiatan intra sekolah, les, dan lain-lain, bukankah itu semua adalah bagian hidup remaja juga?

Jadi, apakah kita mau remaja Indonesia menjadi remaja ala televisi? Yang hanya ngurusin pacaran semata? Capek deh!

Perdana Putri, abdi masyarakat. Bisa ditemui di jejaring Twitter dengan nama akun @perdanap

comments powered by Disqus