Suara di Tepian
Suara di Tepian
Administrator / 24 October 2014

 

Perempuan, warga miskin, orang-orang dengan kondisi fisik tertentu, hingga masyarakat adat adalah kelompok masyarakat yang rentan mengalami ketidakadilan sosial. Sebagai bagian dari warga negara, mereka juga punya hak atas frekuensi yang dikelola industri televisi. Lantas, bagaimana televisi membingkai mereka dan persoalan mereka?

Coba ajukan pertanyaan ini: apakah di televisi ada informasi cukup yang sengaja dibuat untuk kelompok masyarakat ini, yang berguna bagi kebutuhan hidup mereka? Apakah berita yang mengangkat aspirasi masyarakat adat atau kaum difabel sudah tersedia dengan cukup dan dalam nada yang suportif?

Sering kali, atas pertanyaan demikian, kita menemui jawaban tidak.

Sedikitnya tayangan untuk mereka diperburuk dengan kekeliruan televisi dalam menggambarkan mereka. Di televisi, misalnya, orang-orang dengan fisik tertentu atau masyarakat yang berbeda cara berpakaiannya menjadi bahan pengocok perut semata. Perempuan pun ditampilkan hanya sebagai objek seksual yang penuh dengan stereotipe bodoh, manusia kelas dua, atau perayu.

Padahal, mereka adalah warga negara yang punya hak untuk ditampilkan secara adil di televisi. Mereka punya hak untuk mendefinisikan diri mereka sendiri: bagaimana mereka ingin diperlakukan dan bagaimana sebaiknya kita menolong mereka.

Mungkin dari kamu ada yang pernah menonton Primitive Runaway di Trans TV. Tayangan ini sekarang memang sudah tidak ada, dan sempat berubah menjadi Ethnic Runaway karena protes masyarakatPrimitive Runaway adalah salah satu contoh bagaimana industri televisi memperlakukan masyarakat adat secara diskriminatif dengan menyematkan istilah "primitif"sesuatu yang dulunya digunakan penjajah terhadap pendudukan jajahannya.

Di Trans TV pula, tayangan Kakek-Kakek Narsis merupakan contoh lain dari sikap industri televisi dalam memandang perempuan: objek seksual. Kakek-Kakek Narsis menjadikan kekerasan verbal dan sterotipe perempuan sebagai materi utama tayangannya. SepertiPrimitive Runaway, tayangan ini pun kemudian menuai protes.

Yang menjadi masalah pada hal-hal tersebut adalah potensinya dalam menciptakan mis-informasi atau mis-representasi yang cenderung mengaburkan masalah mendasar dari kelompok rentan ini. Masyarakat adat dilihat sebagai yang tertinggal dan harus dimodernisasi, masyarakat miskin cukup diberi uang dan pertolongan dengan bungkusan jargon-jargon simpati orang kota yang “mengunjungi” kemiskinan, perempuan yang kerap mengalami pelecehan secara sosial diteguhkan situasinya lewat tayangan televisi, hingga mereka yang punya fisik yang berbeda diolok-olok.

Artinya, kelompok-kelompok rentan tersebut hanya menjadi bahan eksploitasi untuk membuat rating acara naik, tanpa perlu mempedulikan masalah paling mengakar pada mereka. Lebih disayangkan, mereka bahkan tidak punya tempat untuk menyuarakan apa permasalahan yang paling mendasar tersebut.